Perusahaan kini mengelola lingkungan IT yang semakin kompleks, mulai dari hybrid cloud, aplikasi SaaS, endpoint, hingga API. Di saat yang sama, permukaan serangan terus meluas dan menghasilkan ribuan alert keamanan setiap hari.
Masalahnya, tidak semua alert bersifat kritikal. Akibatnya, tim security sering mengalami alert fatigue, menghabiskan waktu memilah notifikasi dan berisiko melewatkan ancaman yang benar-benar berbahaya.
Karena itu, organisasi membutuhkan Risk-Based Vulnerability Management, yaitu pendekatan yang membantu tim keamanan memprioritaskan risiko berdasarkan dampak bisnis dan kemungkinan eksploitasi yang nyata.
Dilema Keamanan Siber, Mengapa Banyak Solusi Vulnerability Scanning Membuat Tim Anda Kewalahan?
Banyak perusahaan masih mengandalkan vulnerability scanning untuk menemukan celah keamanan pada sistem dan aplikasi mereka. Namun, seiring bertambahnya aset digital, pendekatan ini mulai memiliki keterbatasan.
Hasil pemindaian sering menghasilkan ribuan temuan tanpa menunjukkan mana yang paling berisiko bagi bisnis. Akibatnya, tim keamanan kewalahan menentukan prioritas perbaikan.
Inilah perbedaan antara vulnerability scanning dan vulnerability management. Vulnerability scanning hanya menemukan celah keamanan, sedangkan vulnerability management mencakup identifikasi aset, analisis risiko, penentuan prioritas, hingga perbaikan secara berkelanjutan.
Selain itu, penggunaan banyak tools yang terpisah juga dapat meningkatkan biaya dan menciptakan blind spot keamanan. Karena itu, semakin banyak perusahaan beralih ke risk-based vulnerability management agar tim keamanan dapat fokus pada risiko yang benar-benar berdampak pada bisnis.
Mengapa Skor CVSS Tinggi Belum Tentu Menjadi Ancaman Paling Berbahaya?
Banyak organisasi masih menggunakan Common Vulnerability Scoring System (CVSS) sebagai indikator utama dalam menentukan prioritas perbaikan keamanan.
Padahal, skor CVSS yang tinggi belum tentu menjadi ancaman paling berbahaya bagi organisasi.
Penyerang modern tidak hanya mencari kerentanan dengan tingkat keparahan tertinggi. Mereka mencari jalur eksploitasi yang paling mudah dimanfaatkan dan memiliki dampak bisnis terbesar.
Sebagai contoh, kerentanan dengan skor CVSS sedang dapat menjadi ancaman yang lebih berbahaya apabila:
- Berada pada aset yang mengandung data sensitif.
- Dapat diakses dari internet.
- Memiliki jalur serangan menuju sistem kritikal.
- Sudah tersedia exploit di lingkungan threat actor.
Pendekatan inilah yang disebut sebagai contextual risk scoring.
Pendekatan berbasis konteks mempertimbangkan berbagai faktor, seperti:
- Business impact
- Exposure condition
- Attack path
- Exploitability
- Threat intelligence
- Hubungan antar aset
Dengan memahami konteks risiko secara menyeluruh, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya keamanan secara lebih efektif dan mengurangi kemungkinan ancaman yang benar-benar berisiko tinggi lolos dari pengawasan.
Mengenal Solusi Trend Vision One dari TrendAI: Konsolidasi Keamanan Tanpa Blindspot
Untuk membantu organisasi menghadapi risiko siber yang semakin kompleks, Trend Micro menghadirkan Trend Vision One Cyber Risk Exposure Management (CREM), platform keamanan terpadu berbasis AI.
Berbeda dengan penggunaan banyak tools yang terpisah, Trend Vision One menyajikan single risk picture yang menggabungkan berbagai fungsi keamanan dalam satu platform, meliputi:
- External Attack Surface Management (EASM)
- Attack Surface Management (ASM)
- Cloud Security Posture Management (CSPM)
- Cyber Asset Attack Surface Management (CAASM)
- Identity Security Posture Management
- Security Awareness
- Compliance Management
Pendekatan ini membantu organisasi mengurangi tool sprawl, menekan biaya operasional, dan menyederhanakan pengelolaan keamanan di lingkungan hybrid.
Sebagai AI cybersecurity platform, Trend Vision One juga didukung oleh TrendAI Cybertron, Trend Zero-Day Initiative (ZDI), contextual risk factors, dan broad native sensor coverage. Teknologi ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap identitas, perangkat, jaringan, cloud, API, aplikasi SaaS, hingga unmanaged assets.
Otomasi Mitigasi Menggunakan AI-Driven Remediation untuk Menurunkan MTTR
Mengelola kerentanan tidak lagi cukup dilakukan melalui proses deteksi dan pelaporan. Organisasi membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi, memprediksi, memprioritaskan, dan merespons ancaman secara lebih cepat.
Trend Vision One menghadirkan pendekatan cyber risk exposure management melalui siklus keamanan yang terintegrasi.
Discover
Platform secara otomatis melakukan real-time asset discovery dan memberikan continuous attack surface visibility terhadap seluruh lingkungan digital perusahaan.
Predict
Dengan dukungan TrendAI Cybertron dan threat intelligence global, platform mampu melakukan attack path prediction dan threat forecasting untuk memahami bagaimana penyerang berpotensi mengeksploitasi kerentanan yang ada.
Prioritize
Platform menggunakan context-driven risk scoring dan continuous risk assessment untuk menentukan risiko mana yang benar-benar memerlukan perhatian segera.
Pendekatan ini membantu tim keamanan mengurangi alert fatigue dan memfokuskan upaya remediation pada ancaman yang memiliki dampak bisnis terbesar.
Mitigate
Melalui teknologi AI-driven remediation, platform menyediakan AI-guided playbooks dan automated workflows yang mampu mempercepat proses remediation.
Kemampuan automated threat remediation membantu organisasi:
- Mengurangi alert fatigue
- Mempercepat remediation workflow
- Menurunkan Mean Time to Respond (MTTR)
- Mengotomasi security workflow
- Meningkatkan efisiensi operasional tim keamanan
Kepatuhan Regulasi Otomatis dan Manajemen Risiko untuk Sektor Perbankan serta FSI
Industri perbankan dan layanan keuangan menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks seiring meningkatnya penggunaan cloud, mobile banking, digital payment, dan aplikasi pihak ketiga. Satu blind spot saja dapat memicu kebocoran data, gangguan layanan, hingga kerugian finansial.
Melalui continuous risk assessment, Trend Vision One memberikan visibilitas keamanan secara real-time dan membantu organisasi mengidentifikasi risiko lebih cepat. Platform ini juga mendukung compliance readiness melalui laporan audit otomatis yang selaras dengan berbagai standar global, seperti NIST, GDPR, dan FedRAMP.
Selain itu, fitur cyber risk quantification dan executive dashboard membantu manajemen memahami tingkat risiko dan mengambil keputusan keamanan yang lebih tepat berbasis data.
Baca Juga: Cyber Risk Exposure Management: Strategi Jitu untuk Perlindungan Siber Proaktif
Modernisasi Manajemen Kerentanan Bisnis Anda Bersama Virtus Indonesia
Melalui Trend Vision One Cyber Risk Exposure Management dari Virtus Technology Indonesia (part of CTI Group), organisasi dapat mengurangi risiko siber secara proaktif, menghilangkan blind spot di lingkungan hybrid, dan meningkatkan efisiensi operasional tim keamanan.
Tingkatkan kemampuan keamanan siber perusahaan Anda dengan solusi AI-powered visibility dan automated remediation dari TrendAI. Hubungi tim Virtus untuk mengetahui solusinya.
Penulis: Ary Adianto
Content Writer CTI Group