Adopsi AI di lingkungan kerja berkembang pesat. Berdasarkan laporan Omnissa State of the Digital Workspace 2026, penggunaan AI assistant meningkat hampir 1.000 persen sepanjang 2025 pada sebagian besar platform OS yang dianalisis.
Namun, pertumbuhan ini juga menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Infrastruktur IT semakin kompleks, perangkat dan aplikasi semakin beragam, sementara aktivitas karyawan tidak selalu berada dalam pengawasan tata kelola IT. Kondisi ini menciptakan visibility gap yang dapat memengaruhi keamanan, efisiensi biaya, dan produktivitas.
Laporan Omnissa tersebut menggunakan data telemetri anonim dan agregat dari jutaan endpoint enterprise secara global, yang dianalisis sepanjang Januari hingga Desember 2025. Riset ini membahas empat area utama, yaitu device choice, shadow perimeter, security hygiene, dan employee experience.
Tantangan Shadow AI dan Munculnya Shadow Perimeter di Lingkungan Kerja
Penggunaan AI assistant menjadi salah satu digital workspace trends 2026 yang perlu diperhatikan perusahaan. Laporan Omnissa menunjukkan pertumbuhan hampir 1.000% pada kategori AI assistant. Namun, karyawan tidak hanya menggunakan AI yang disediakan secara resmi oleh perusahaan, seperti Microsoft Copilot, tetapi juga aplikasi publik seperti ChatGPT dan Gemini.
Penggunaan aplikasi tersebut di luar governance resmi IT dapat menciptakan risiko shadow AI di perusahaan. Karyawan berpotensi memasukkan data internal, kode proprietary, atau informasi sensitif ke dalam platform yang tidak sepenuhnya dikendalikan organisasi.
Selain AI, aplikasi komunikasi personal juga semakin mengaburkan batas antara aktivitas profesional dan pribadi. Ditambah dengan meningkatnya penggunaan SaaS, browser kini berperan seperti operating system sekaligus endpoint baru bagi pekerja modern.
Karena itu, digital workspace security tidak cukup mengandalkan blocklist atau pembatasan aplikasi. Perusahaan membutuhkan visibilitas terhadap aplikasi yang digunakan, sekaligus governance yang mampu menyeimbangkan keamanan dan produktivitas.
Strategi Device Choice Menggeser Fasilitas Kerja Menjadi Persona-Based Procurement
Penyediaan perangkat kerja dengan pendekatan one-size-fits-all tidak selalu efisien. Kebutuhan perangkat seorang developer tentu berbeda dengan pekerja frontline, tenaga kesehatan, atau karyawan administrasi.
Laporan Omnissa menunjukkan bahwa preferensi OS, OEM, form factor, dan spesifikasi perangkat berbeda berdasarkan industri serta kebutuhan user persona. Artinya, perusahaan perlu mempertimbangkan performa, durasi penggunaan, kebutuhan aplikasi, dan biaya pemeliharaan dalam strategi pengadaan perangkat.
1. Preferensi OS dan Form Factor Berdasarkan Sektor Industri
Perangkat Android lebih banyak ditemukan pada sektor retail dan healthcare, terutama karena kebutuhan perangkat ruggedized. Sementara itu, Zebra banyak digunakan pada retail, wholesale, dan transportasi karena fitur durability, baterai yang dapat diganti, serta barcode scanning.
Pada sektor high tech dan services, MacBook Pro menjadi pilihan dominan untuk kebutuhan pekerjaan yang memerlukan performa tinggi. Di sisi lain, sektor pemerintah menunjukkan pertumbuhan penggunaan desktop yang signifikan.
Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan perangkat perlu disesuaikan dengan kebutuhan operasional, bukan hanya berdasarkan katalog perangkat standar.
2. Device Lifecycle Management dan Konfigurasi Perangkat
Device lifecycle management juga berpengaruh terhadap Total Cost of Ownership (TCO). Data laporan menunjukkan bahwa 11,5 persen perangkat Mac masih digunakan hingga tahun keenam, dibandingkan 1,8 persen perangkat Windows dalam dataset desktop yang dianalisis.
Selain umur perangkat, konfigurasi seperti processor, RAM, dan storage perlu disesuaikan dengan kebutuhan user persona. Dengan dukungan observability, perusahaan dapat memahami penggunaan resource dan menentukan waktu penggantian perangkat berdasarkan data, bukan hanya jadwal refresh yang bersifat tetap.
Menutupi Celah Security Hygiene pada Ekosistem End-User Computing
Kompleksitas digital workspace dapat memperbesar celah keamanan dan compliance endpoint. Perbedaan kecepatan patching antar-OS menjadi salah satu temuan utama laporan Omnissa.
Dalam dataset tersebut, macOS diperbarui 1,5 kali lebih cepat dibandingkan Windows, sedangkan iOS diperbarui 8,1 kali lebih cepat dibandingkan Android. Industri seperti healthcare, pharmaceuticals, serta retail dan wholesale juga menunjukkan penggunaan OS versi lama yang lebih tinggi.
Laporan turut menyoroti tingginya tingkat perangkat desktop yang belum terenkripsi di sejumlah sektor. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap kebijakan tidak selalu mencerminkan kondisi keamanan aktual perangkat.
Tim IT perlu beralih dari reactive auditing menuju proactive remediation. Dengan pemantauan berkelanjutan, perusahaan dapat mendeteksi perangkat yang tidak terenkripsi, firewall yang dinonaktifkan, atau endpoint yang rentan terhadap CVE, kemudian menentukan tindakan perbaikan berdasarkan tingkat risiko.
Mengurangi Digital Friction untuk Mengoptimalkan Digital Employee Experience (DEX)
Perangkat yang masih dapat digunakan belum tentu memberikan pengalaman kerja yang optimal. System crashes, app crashes, app hangs, dan perlambatan sistem dapat menciptakan forced interruption tax, yaitu waktu produktivitas yang hilang akibat gangguan teknis.
Berdasarkan laporan Omnissa, perangkat Windows mengalami 3,1 kali lebih banyak forced shutdown, 2,2 kali lebih banyak app crashes, dan 7,5 kali lebih banyak app hangs dibandingkan perangkat Mac dalam dataset yang dianalisis.
Karena itu, perusahaan perlu menetapkan baseline performa endpoint untuk mengukur digital employee experience secara lebih objektif. Data tersebut dapat membantu IT mengidentifikasi penyebab gangguan, mulai dari aplikasi bermasalah, bottleneck jaringan, hingga keterbatasan hardware.
Mengapa IT Observability Menjadi Kunci Keberhasilan Digital Workspace Modern
Beragamnya perangkat, aplikasi, OS, dan pola kerja membuat pengelolaan digital workspace semakin sulit dilakukan melalui monitoring yang terpisah. Perusahaan tidak dapat mengamankan atau mengoptimalkan sesuatu yang tidak dapat mereka lihat secara menyeluruh.
End-to-end IT observability membantu menghubungkan data dari perangkat, aplikasi, security posture, dan pengalaman pengguna dalam satu gambaran yang lebih terintegrasi. Dengan pendekatan ini, tim IT dapat:
- Mengidentifikasi shadow AI dan penggunaan aplikasi yang tidak terpantau.
- Mengoptimalkan pengadaan serta siklus hidup perangkat.
- Mendeteksi celah keamanan dan compliance secara berkelanjutan.
- Mengukur gangguan endpoint yang berdampak pada produktivitas.
Observability dalam IT bukan hanya tentang melihat kondisi sistem, tetapi juga mengubah data operasional menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih proaktif.
Unduh Laporan Lengkap Omnissa State of the Digital Workspace 2026
Laporan Omnissa State of the Digital Workspace 2026 memberikan gambaran berbasis data mengenai tantangan digital workspace yang dihadapi perusahaan, mulai dari adopsi AI, kompleksitas endpoint, security hygiene, hingga digital employee experience.
Sebagai mitra resmi Omnissa, Virtus Technology Indonesia (part of CTI Group) membantu perusahaan memahami kebutuhan dan mengimplementasikan solusi digital workspace secara holistik, dengan mempertimbangkan keamanan, efisiensi operasional, serta produktivitas pengguna.
Dapatkan wawasan mendalam dan data telemetri komprehensif untuk menentukan strategi IT perusahaan Anda. Unduh laporan Omnissa State of the Digital Workspace 2026 atau konsultasikan kebutuhan infrastruktur Anda bersama tim ahli Virtus Technology Indonesia sekarang.
Penulis: Ary Adianto
Content Writer CTI Group
